Restaurant
oleh: Muxi
Suatu masa…
“Eh, udah lulus aja kamu ki” sambil menata dress yang
dikenakan gadis itu.
“Iya nih tan, padahal merasa baru aja MOS tapi udah
graduation”
Menatap kaca gadis tersebut mematut dirinya yang kini sudah
berbalut Dress panjang brukat biru dengan rok warna senada.Jilbab yang tertata
rapi namun masih tetap elegan dengan hiasan mahkota mewarnai jilbab berwarna
biru muda tersebut.Ibunya tersenyum melihat anaknya yang bisa menjadi orang berbeda ketika
menggunakan riasan.
Askia
Rahadatul Aisy.Begitulah nama gadis yang kini tengah menempuh perjalanan dalam
mobil Toyota Alphard warna hitam.Ditemani Ibu dan tentu saja dua saudara
tengilnya.Azka Rasyid Al-Kautsar dan Aisyah Rahdahtun Nafisah.Gadis itu terus
menerus menggaruk kepalanya yang terasa tidak nyaman Karena jilbab yang terlalu ketat, menurutnya.
“Ih Ni kamu cantik lo ni kalo dandan.Coba aja kamu dari dulu
suka pake make up meskipun natural.Wah mungkin udah pada datang yang mau
ngelamar.Iya kan Buk?”
“Astaghfirullah kamu bicara apa sih is.”
“Iya mungkin ya, Uni pasti dah banyak yang ngelamar dari
dulu.Toh Muridnya Mbah Kakung pada Ganteng dan soleh” Timpal ibunya.
“Nggak lah buk, uni masih pengen Seneng-seneng, karir yang
tinggi, ngebahagiain ibuk sama ayah”
Pembicaraan terus berlangsung antara tiga orang perempuan di
dalam mobil ini tanpa ada suara dari pihak laki-laki.Ayahnya yang fokus dibalik
kemudi dan Azka yang fokus dibalik layar PubG.Di perjalanan Saki merasa lapar dan membuka
bekal berisi nasi goreng yang ia buat tadi pagi sebelum berangkat ke
salon.Langsung saja bau nasi goring menguar dalam ruang berjalan tersebut. Azka
yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Uni nikah aja ni sama kakak tingkatku di pondok.Baik
Orangnya sudah jadi guru juga di pondok.”
“Apaan sih ka kok malah nambah masalah uni ”
Azka yang didebat kakaknya pun hanya diam sambil memandangi
layar ponselnya.Entah ada apa di ponsel Azka sampai-sampai tak sekalipun
menoleh saat berbicara.Azka memang terkesan cuek dia selalu fokus dengan game
di ponsel pintarnya.Tapi, meski sukanya main game dalam urusan agama dia tidak
lupa diri.Ditambah lagi Azka sudah menghafal beberapa juz Al-Quran.
Toyota
alphard melaju mulus di aspal Pancasila Hall tempat gadis itu menghadiri acara
graduation.Saki, Ibu Mira, Azka dan Ais turun dari mobil sedangkan ayah Iman
sedang memarkirkan mobil.Masih belum banyak yang ada di teras hall namun jika
sudah masuk ke dalam tampaklah orang kalau tempat itu sudah ramai.Keluarga Saki
mencari posisi yang leluasa untuk menikmati acara dan akhirnya mendapat tempat
yang nyaman dan ayah menyusul, Sedangkan Saki harus bergabung dengan
teman-temannya di tribun wisudawan dan wisudawati.Terlihat wajah-wajah yang
hanya sekali dua kali bertemu terasa
semakin asing saat menggunakan riasan dan dresscode wisuda.Sesuai prodi Saki
langsung menuju tempat keberadaan teman-temannya.Prodi IPS.Tampak
teman-temannya yang terlihat menawan dalam balutan baju khas wisuda tak
terkecuali Saki.Dia tampak berbeda.
Kehadiran
Saki ditengah teman-temannya membuat mereka heran sekaligus pangling.Karena
Saki terlihat sangat anggun disamping perilakunya yang konyol dan tak tau
aturan.
“Sett dah, siapa nih yang dateng?” Ucap Satriya yang
menggunakan setelan jas hitam.
“Putri dari negri mana nih?!” sahut bunga.Dan masih banyak
lagi celotehan lainnya.
“Sakihime dari konohagakure keturunan hokage ke tujuh punya
mode sennin dan mode kyubii aktif di malam hari” sambil menyilangkan tangan.
“Wajah aja yang tambah cantik, tingkah laku mah tetep aja
slengekan.wkwkwkwkw” Sahabat dan teman
seperbego-an angkat suara.Rumi.
“Eh neng Rumi sahabat nya aku, kamu makin oke aja mi.Lihat
tuh si Satriya sampe ileran lihat dirimu” Semua temannya memandang satriya dan
Rumi bergantian sambil tertawa.Sedangkan Satriya sudah senyum gak jelas dan
Rumi yang mengejar-ngejar Saki tanpa ampun sampai dia kelelahan.
Tak lama kemudian, pembawa acara dan gurur-guru
mengintruksikan agar para murid yang sudah datang segera menempatkan diri di
bangku yang sudah disesuaikan saat gladhi resik kemarin malam.
Nomer urut sebelas, hmm dimana ya.Anjir lupa sama bangku sendiri.Rumi
Absen belakangan.Prodi IPS dicampur lagi, gaada yang bisa diminta tolong.Ucap
Saki dalam hati.Lalu sayup-sayup terdengar suara berat khas suara salah satu
teman sekelasnya yang agak pendiam.Dan sering memasang wajah
masam.everywhere.Badrani Wasim Al-Qaris.Badra.Jelas suara marah-marah ke anak osis
ini adalah Badra.Dia menjadi mantan ketua osis setelah dia naik kelas tiga.Dikenal
disiplin dan bermata tajam pada bawahannya.
“Bad, bangku lu dimana? gue lupa formasi kemaren, tapi
seingat gw deket lu”
Badra agak bingung tapi langsung paham “Ayo ikut gue” dan
aku mengangguk.
“Gue kira tadi salah orang, Sak.Makanya tadi gue agak
bingung pas lu nyamper” entah kenapa Badra manggil gue dengan panggilan aneh
tersebut.Dia bilang cari gampangnya, nama gue Saki.Dia ambil “Sak” nya
doang.Sebagai balasan gue manggil dia “Bad” aja kek sahabat dia, Satriya.
Aku mengekori Badra, Sampai ke bangku yang ditentukan.Baru
Inget kalo selain Badra sebelah gue juga ada Mita, anak IPS 3 temen gue di
karate.Sabuk dia diatas gue, kakak tingkat.Badra langsung memposisikan dirinya
senyaman mungkin.Karena acara wisuda lumayan lama. Sampai dipanggil untuk
prosesi pemberian Gordon dan ijasah.Sampai dia memanggil.
"saki?"
To Be Continued...
Oioioi Muxi here.
Maaf yes kupotong sampe sini.Rencananya pingin gw buat cerpen.
Tapii... hmm gw pingin ceritanya bersambung sahaja.wkwkwk.
Luv ya.
MuXi Aoitsuki
Huwe bersambung, eh Azka kayaknya ganteng deh
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusGantenk akhlaknya wkwkwkwk
BalasHapus