G'day, dear fellas

Sabtu, 06 Juni 2020

Restaurant

oleh: Muxi

Suatu masa…
“Eh, udah lulus aja kamu ki” sambil menata dress yang dikenakan gadis itu.
“Iya nih tan, padahal merasa baru aja MOS tapi udah graduation”
Menatap kaca gadis tersebut mematut dirinya yang kini sudah berbalut Dress panjang brukat biru dengan rok warna senada.Jilbab yang tertata rapi namun masih tetap elegan dengan hiasan mahkota mewarnai jilbab berwarna biru muda tersebut.Ibunya tersenyum melihat anaknya yang bisa menjadi orang berbeda ketika menggunakan riasan.
                Askia Rahadatul Aisy.Begitulah nama gadis yang kini tengah menempuh perjalanan dalam mobil Toyota Alphard warna hitam.Ditemani Ibu dan tentu saja dua saudara tengilnya.Azka Rasyid Al-Kautsar dan Aisyah Rahdahtun Nafisah.Gadis itu terus menerus menggaruk kepalanya yang terasa tidak nyaman Karena jilbab  yang terlalu ketat, menurutnya.
“Ih Ni kamu cantik lo ni kalo dandan.Coba aja kamu dari dulu suka pake make up meskipun natural.Wah mungkin udah pada datang yang mau ngelamar.Iya kan Buk?”
“Astaghfirullah kamu bicara apa sih is.”
“Iya mungkin ya, Uni pasti dah banyak yang ngelamar dari dulu.Toh Muridnya Mbah Kakung pada Ganteng dan soleh” Timpal ibunya.
“Nggak lah buk, uni masih pengen Seneng-seneng, karir yang tinggi, ngebahagiain ibuk sama ayah”
Pembicaraan terus berlangsung antara tiga orang perempuan di dalam mobil ini tanpa ada suara dari pihak laki-laki.Ayahnya yang fokus dibalik kemudi dan Azka yang fokus dibalik layar PubG.Di perjalanan Saki merasa lapar dan membuka bekal berisi nasi goreng yang ia buat tadi pagi sebelum berangkat ke salon.Langsung saja bau nasi goring menguar dalam ruang berjalan tersebut. Azka yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Uni nikah aja ni sama kakak tingkatku di pondok.Baik Orangnya sudah jadi guru juga di pondok.”
“Apaan sih ka kok malah nambah masalah uni ”
Azka yang didebat kakaknya pun hanya diam sambil memandangi layar ponselnya.Entah ada apa di ponsel Azka sampai-sampai tak sekalipun menoleh saat berbicara.Azka memang terkesan cuek dia selalu fokus dengan game di ponsel pintarnya.Tapi, meski sukanya main game dalam urusan agama dia tidak lupa diri.Ditambah lagi Azka sudah menghafal beberapa juz Al-Quran.
                Toyota alphard melaju mulus di aspal Pancasila Hall tempat gadis itu menghadiri acara graduation.Saki, Ibu Mira, Azka dan Ais turun dari mobil sedangkan ayah Iman sedang memarkirkan mobil.Masih belum banyak yang ada di teras hall namun jika sudah masuk ke dalam tampaklah orang kalau tempat itu sudah ramai.Keluarga Saki mencari posisi yang leluasa untuk menikmati acara dan akhirnya mendapat tempat yang nyaman dan ayah menyusul, Sedangkan Saki harus bergabung dengan teman-temannya di tribun wisudawan dan wisudawati.Terlihat wajah-wajah yang hanya sekali dua kali bertemu  terasa semakin asing saat menggunakan riasan dan dresscode wisuda.Sesuai prodi Saki langsung menuju tempat keberadaan teman-temannya.Prodi IPS.Tampak teman-temannya yang terlihat menawan dalam balutan baju khas wisuda tak terkecuali Saki.Dia tampak berbeda.
                Kehadiran Saki ditengah teman-temannya membuat mereka heran sekaligus pangling.Karena Saki terlihat sangat anggun disamping perilakunya yang konyol dan tak tau aturan.
“Sett dah, siapa nih yang dateng?” Ucap Satriya yang menggunakan setelan jas hitam.
“Putri dari negri mana nih?!” sahut bunga.Dan masih banyak lagi celotehan lainnya.
“Sakihime dari konohagakure keturunan hokage ke tujuh punya mode sennin dan mode kyubii aktif di malam hari” sambil menyilangkan tangan.
“Wajah aja yang tambah cantik, tingkah laku mah tetep aja slengekan.wkwkwkwkw” Sahabat  dan teman seperbego-an angkat suara.Rumi.
“Eh neng Rumi sahabat nya aku, kamu makin oke aja mi.Lihat tuh si Satriya sampe ileran lihat dirimu” Semua temannya memandang satriya dan Rumi bergantian sambil tertawa.Sedangkan Satriya sudah senyum gak jelas dan Rumi yang mengejar-ngejar Saki tanpa ampun sampai dia kelelahan.
Tak lama kemudian, pembawa acara dan gurur-guru mengintruksikan agar para murid yang sudah datang segera menempatkan diri di bangku yang sudah disesuaikan saat gladhi resik kemarin malam.
Nomer urut sebelas, hmm dimana ya.Anjir lupa sama bangku sendiri.Rumi Absen belakangan.Prodi IPS dicampur lagi, gaada yang bisa diminta tolong.Ucap Saki dalam hati.Lalu sayup-sayup terdengar suara berat khas suara salah satu teman sekelasnya yang agak pendiam.Dan sering memasang wajah masam.everywhere.Badrani Wasim Al-Qaris.Badra.Jelas suara marah-marah ke anak osis ini adalah Badra.Dia menjadi mantan ketua osis setelah dia naik kelas tiga.Dikenal disiplin dan bermata tajam pada bawahannya.
“Bad, bangku lu dimana? gue lupa formasi kemaren, tapi seingat gw deket lu”
Badra agak bingung tapi langsung paham “Ayo ikut gue” dan aku mengangguk.
“Gue kira tadi salah orang, Sak.Makanya tadi gue agak bingung pas lu nyamper” entah kenapa Badra manggil gue dengan panggilan aneh tersebut.Dia bilang cari gampangnya, nama gue Saki.Dia ambil “Sak” nya doang.Sebagai balasan gue manggil dia “Bad” aja kek sahabat dia, Satriya.
Aku mengekori Badra, Sampai ke bangku yang ditentukan.Baru Inget kalo selain Badra sebelah gue juga ada Mita, anak IPS 3 temen gue di karate.Sabuk dia diatas gue, kakak tingkat.Badra langsung memposisikan dirinya senyaman mungkin.Karena acara wisuda lumayan lama. Sampai dipanggil untuk prosesi pemberian Gordon dan ijasah.Sampai dia memanggil.

"saki?"




To Be Continued...




Oioioi Muxi here.
Maaf yes kupotong sampe sini.Rencananya pingin gw buat cerpen.
Tapii... hmm gw pingin ceritanya bersambung sahaja.wkwkwk.

Luv ya.
MuXi Aoitsuki

3 komentar:

Treasure Notes

Malang, 26 Juni 2024     Hari ini saya merasa kurang lagi, saya heran mengapa saya selalu merasa kurang akan semua hal. Saya kurang baik, sa...