Malang, 6 Juni 2024
Akhir-akhir ini saya sering ditimpa banyak kesialan, bukan hanya pada hal yang saya kerjakan, namun pada kesehatan mental dan fisik saya. Satu masalah muncul di awalan tahun, dan tugas akhir saya harus terhenti karena itu. Setelah itu kesehatan mental saya terganggu karena terlalu tingginya harapan dan perasaan fomo pada teman yang tak kunjung padam. Disusul dengan keadaan fisik saya yang seakan memberontak mengeluarkan semua kekesalan dan kecapean yang telah tertimbun sejak entah kapan. Saya sedih, saya putus asa dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang saya kerjakan serasa berhenti. Saya merasa semester ini sangat sia-sia sehingga tersadar, nasib saya tidak se-superior dan sebaik itu. Saya mulai bertanya-tanya apa yang salah? Apakah saya kurang berusaha, namun saya temukan saya sudah berusaha sesuai tenaga. Teman-teman satu persatu telah menyelesaikan tugas akhir mereka dan saya tetap disini tanpa kemajuan dan tanpa motivasi. Mental saya semakin hancur dan saya merasa telah mengecewakan banyak orang termasuk orang tau, kakek nenek dan kakung yang telah meninggal. Sangat menyesali apa yang saya lakukan dimasa lalu, kekurangan apa yang terlewat tetapi hal itu tidak berguan. Waktu tetap berjalan kedepan dan tidak sebaliknya.
Ditengah kegelutan saya dengan mental dan ke-negatifan pikiran yang selalu datang menghampiri saat akan tidur atau istirahat siang - malam. Saat saya belum selesai dengan permasalahan sebelumnya. Ayah saya terlilit hutang. Sebenarnya masalah ini merupakan masalah lama yang terangkat kembali setelah suatu pagi seorang berteriak keras masuk kedalam rumah kami dan marah seolah sedang dirasuki setan dengan menunjuk-nunjuk ayah saya sebagai pembohong hutang yang tidak mau membayar sepeserpun, bahkan menipu. Saya kecewa, saya tahu kebenarannya bahwa ayah saya bukanlah orang seperti itu, saya tahu bahwa semua uang ayah telah dibawa lari orang yang entah kemana karena orang itu bilang perlu uang. Jadi ayah saya yang tidak tegaan rela meminjamkan uang kami. Oleh karena itu, Mau tidak mau ayah harus berhutang kepada orang lain demi kelanjutan hidup kami. Ayah selalu meminjamkan uang kami pada orang yang salah, dan ayah juga selalu meminjam uang di orang yang salah. Terkadang saya berpikir, jika suatu saat saya sudah kerja apakah hasil dari keringat saya harus dialokasikan pada pelunasan hutang ayah tanpa bisa merasakan manisnya memegang uang sedikitpun? Apakah seperti itu? Itu tidak adil!
Seolah saya merupakan satu-satunya manusia gagal dan manusia paling sengsara dimuka bumi ini. Saya selalu melihat ke atas, ke teman-teman yang selalu berkecukupan hidup tanpa pusing memikirkan harus bawa uang berapa untuk kuliah esok hari. Atau harus menyiapkan budget berapa untuk pergi. Tanpa takut tidak memegang uang sepeserpun. Terkadang saya ingin mati ketika kegagalan menghampiri saya, ketika dunia sedang tidak berpihak pada saya atau sekedar tidak bisa pergi makan keluar dengan teman karena tidak ada uang.
Hati saya selalu iri, mengapa orang tua saya tidak seperti orang tua teman-teman? Andaikan saya tidak terlahir dikeluarga ini atau andaikan saya bisa memutuskan hubungan dengan orang-orang yang berpotensi menjadi benalu pada kehidupan saya seperti ayah apakah mungkin saya akan bernasib lain jika saya mendapat semua kesempatan itu? Hati saya selalu iri, selalu dengki dengan kesuksesan atau hidup orang lain. Mengapa harus orang lain, mengapa cuma saya yang berusaha setengah mati?
Namun pikiran itu seolah perlu ditinjau lagi setelah saya melihat banyak orang yang nasibnya sama seperti saya, malah lebih kurang lagi. Hati kecil saya serasa diremas, otak saya limbung ketika melihat seorang anak kecil yang berjualan gorengan di lampu merah dengan tujuan ingin mendapatkan uang untuk berobat ibunya, dia menjadi tulang punggung karena ayahnya sudah meninggal. Anak sekecil itu? Menjadi tulang punggung keluarga? Ah masalah saya bukan apa-apa dibanding dia. Disudut dunia lain, ada seorang kakek tua tuna rungu yang menjadi tukang parkir, rela dibentak pemilik motor karena meminta uang parkir senilai 1000 rupiah *hanya 1000 rupiah. Demi bisa makan dan bertahan hidup. Hati saya terguncang, saya yang meskipun kekurangan uang tapi saya tidak pernah berpikir untuk bagaimana saya bisa dapat uang untuk makan besok. Saya tidak pernah memikirkan saya akan kekurangan makan. Saya hanya kekurangan budget kebutuhan tersier tapi untuk kebutuhan sehari-hari nenek selalu memenuhi semuanya. Saya tersadar, dunia ini seperti roda ada yang diatas dan ada yang dibawah.
Keinginan mengeluh itu hilang setelah melihat banyak orang yang keadaan hidupnya lebih hancur dari saya. Pada akhirnya saya tersadar bukan tidak bahagia, tapi salah mengambil perbandingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar